Kapal Induk Nuklir dan Diesel Bagaimana Perbandingan Keduanya

Indonesia Networks РKapal induk selalu di katakan sebagai pulau bergerak dimana mampu menampung banyak orang beserta peralatan tempur seperti pesawat tempur, helikopter dan rumah sakit kecil didalamnya. Sehingga kapal induk selalu memiliki teknologi yang super canggih dan penuh dengan sistem pertahanan dari serangan musuh, maka kita perlu memikirkan adalah kebutuhan sebuah energi yang besar untuk menggerakan kapal induk yaitu kebutuhan Listrik, betapa repotnya jika mengandalkan Diesel dimana perlu pengiriman minyak solar atau bensin atau solar khusus kapal dalam operasinya. Seperti Kapal Induk USS Gerald R. Ford memiliki Dua reactor Nuklir dan Kapal Induk HMS Queen Elizabeth merupakan kapal induk dengan penggerak Diesel.

Dari segi investasi dan harga untuk membuat sebuah kapal induk dengan reactor nuklir perlu biaya besar konon katanya mampu membuat kapal induk diesel 2 unit, namun yang menjadi pertimbangan adalah energi adalah penyokong utama dalam kapal sehinga apabila sebuah kapal memiliki batas energi (dapat habis dalam waktu dekat) akan sangat repotkan, namun jika energi dalam sebuah kapal tersebut mampu mandiri selama 30 – 60 tahun berlayar tanpa henti wow itu baru luar biasa dimana kita hanya persiapan bekal hidup seperti makanan dan bahan bakar untuk pesawat – pesawat tempur, namun bagaimana kapal induk juga membawa drone tempur dengan bahan bakar baterai ini yang luar biasa keren bagaimana tidak? baterai bisa di isi ulang di kapal induk dengan pembangkit listrik dari nuklir yang bisa beroperasi bertahun-tahun non stop. Merupakan ancaman jika harus berperang melawan negara yang memiliki alustista seperi ini. “Damai adalah jalan kehidupan yang Indah, Menjaga perdamainan mahal harganya dari mereka yang membenci perdamaian by IndonesiaNetworks.com”

Kapal induk memiliki reactor yang di perkiraan setiap reactornya mampu menghasilkan 125 MW Listrik dan menghasilkan 350.000 tenaga kuda poros atau setara 260 MW, sedangkan untuk kapal induk diesel hanya mampu menghasilkan listrik  setara 112 MW. Secara operasional kapal induk ini untuk kapal induk diesel membutuhkan 5 juta liter solar untuk operasinya selama 7 hari, sedangkan untuk kapal induk nuklir membutuhkan 4 kilogram uranium apabila di bandingkan biayanya kapal induk nuklir selama 7 hari membutuhkan 0,00008 persen yang di gunakan kapal induk konvensional.

Untuk kecepatan gerak kapal induk untuk kapal induk nuklir memiliki keunggulan tersendiri dimana mampu bergerak lebih cepat 5 knot dari kapal induk diesel dimana memiliki angin yang lebih jelas sehingga memudahkan pesawat lepas landas di bantu dengan ketapel pesawat untuk mempercepat pesawat terbang, namun untuk kapal induk jenis diesel tidak membutuhkan itu karena di disain hanya untuk pesawat jarak terbang pendek dan mampu melakukan lepas landas vertikal.



HMS Queen Elizabeth memiliki berat 65.000 ton dan menampung 1 juta galon (3.780.000 liter) diesel laut F-76 untuk kapal dan 750.000 galon (2.830.000 liter) F-44, juga dikenal sebagai bahan bakar Jet JP-5 untuk pesawat yang diberangkatkan. Untuk menempatkan ini dalam perspektif, jumlah total bahan bakar pada kapal induk Queen Elizabeth setara dengan 120 truk bahan bakar. Pada tahun 2020, biaya rata-rata untuk kedua jenis bahan bakar tersebut kira-kira 3 USD per galon yang berarti akan membutuhkan 3 juta USD untuk mengisi bahan bakar kapal induk dan 2,2 juta USD untuk mengisi pesawat. Tangki penuh bahan bakar memungkinkan pengangkut untuk melakukan perjalanan 10.000 NM paling banyak.

Untuk pengisian bahan bakar kedua kapal induk ini membutuhkan pengisian secara berkala dari kapal tanker militer bahan bakar karena bahan bakar minyak di gunakan untuk pesawat – pesawat tempur yang konvensioal, namun untuk kapal induk konvensional pengisian jadi lebih sering yang sangat merepotkan jika dalam situasi tegang dalam posisi peran tempur.

Selain itu kapal induk nuklir memiliki kelebihan lain dimana mampu menyediakan banyak uap untuk ketapel yang di gunakan untuk melempar pesawat tempur dengan kecepatan tinggi untuk kapal induk menggunakan ketapel, selain itu dengan tenaga nuklir mampu menyediakan listrik sehingga sistem yang memiliki elektromagnetik yang menggunakan medan magnet untuk menggantikan sistem ketapel uap untuk sistem peluncuran pesawat.

Kapal induk mahal (HMS Queen Elizabeth- $4,1 miliar, USS Gerald R Ford- $13 miliar). Namun, kapal induk bertenaga nuklir tidak hanya membawa label harga awal yang lebih tinggi tetapi biaya operasi dan pemeliharaannya juga jauh lebih tinggi daripada yang bertenaga diesel. Tagihan bahan bakar untuk kapal induk kelas Ratu Elizabeth dan pengisian ulang dengan biaya laut akan bertambah seiring waktu, tetapi masih akan jauh lebih rendah daripada jika kapal bertenaga nuklir. Untuk jenis kapal induk nuklir membutuhkan biaya besar dan masalah baru dalam hal limbah nuklir seperti kapal induk USS Enterprise telah di non aktifkan sejak 2012 dan limbahnya masih di simpan dan membutuhkan rencana yang tepat oleh angkatan laut As.

Pertimbangan berikutnya adalah radiasi nuklir yang berbahaya untuk keselamatan crew kapal induk, dimana dalam operasionalnya membutuhkan teknologi khusus mendeteksi kebocoran radiasi nuklir tersebut namun AS berpendapat bahwa teknologi nuklir pada kapal jauh lebih aman dimana AS telah mengoperasikan 103 reaktor nuklir kapal dengan total 81 kapal dan telah setengah abad belum pernah terjadi kecelakan dan pelepasan radioaktif.



Di sini dapat di simpulkan setiap jenis kapal induk baik itu nuklir atau konvensional memiliki kelebihan masing-masing namun seperti apa perbandingan dan pertimbangan semuanya kembali kepada biaya perawatan dan operasionalnya karena sama-sama mahal dari sisi mana pun. Tetapi kalau melihat dari fungsional dan kehandalan dalam operasional kapal induk nuklir jauh lebih baik dimana dapat beroperasi non stop tanpa memikirkan bahan bakar selama bertahun-tahun sehingga cukup memikirkan bahan makanan dan bahan bakar pesawat tempur dan apabila pesawat tempur penjaga sayap udara kapal induk di ganti dengan drone ini merupakan perisai yang kuat dan sulit di tembus karena drone tempur dengan baterai dari kapal induk yang unlimited listriknya mampu isi ulang lalu terbang kembali, pesawat tempur konvensioal terbang di saat tertentu sehingga bahan bakar bisa lebih hemat daripada harus memikirkan pengisian tangki yang merepotkan jika dalam kondisi peran tempur.

 

 

NB : Selalu Promosi Bisnis Anda di www.iklanindonesia.com atau www.iklanbarisonline.com. Gratis

Bagikan Link :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hargai Konten. Di Larang Copy Paste. Hubungi Kami Kerja Sama